Ajarkanku Bahasa Perasaan

Oleh: Arisusana

Dia sangat percaya diri. Mencintai tanpa mengatakannya padaku. Tidak adanya kata cinta membuat pertemanan kami seperti drama. Bagaimana tidak, aku menganggapnya sebagai teman , sementara Mas Eko menganggap aku sebagai kekasihnya. Aku berlaku dingin, sementara dia mengumbar perhatian.

Kami berangkat bersama berboncengan ketika berangkat kuliah. Tidak bisa kutolak kemauannya , karena  dia bilang  sedang tidak ada motor.

Kebiasaannya lagi adalah dia selalu mengatur pakaian yang aku pakai. Setiap dia melihatku memakai celana panjang ke kantor atau kuliah, dia selalu mengkritik.

            “ kamu nggak pantas !, pakailah rok panjang saja !”

Akupun bergegas menuruti katanya, segera kuberganti rok panjang yang sangat merepotkan jika kupakai berboncengan miring dengannya. Aku harus memegangi rok sepanjang jalan agar tidak masuk ke ruji roda.

Kami bekerja di sebuah instansi pemerintah di pagi hari dan mengikuti kuliah khusus di sore hari. Kami saling membantu dalam kesulitan apapun. Kami sering adakan kegiatan bersama , pulang bersama baik kerumahnya atau kerumahku. Sekali lagi alasannya hanya karna dia sedang tidak ada motor.

Menerimanya dengan baik adalah kewajiban bagiku, karna dialah orang  yang menawarkan kepadaku pekerjaan baik ini. Namun sangat sulit untuk menerimanya sebagai pacar atau kekasih. Aku tidak pernah merasakan jantung berdebar kencang jika berada di dekatnya. Tidak ada rasa sama sekali. Sebaliknya, perhatiannya semakin berlebih kepadaku.

Orang tuaku pernah bertanya kepadaku tentang teman laki- lakiku itu. Bagi orang tuaku ,kemerdekaan memilih dan mencintai berada di tanganku.

Tidak ada Kelebihan yang dikagumi.Orang selalu jatuh cinta pada seseorang karena ia punya kelebihan yang menarik perhatian. Kelebihan itu bisa jadi tidak ia miliki. Tidak harus wajahnya menawan, tapi jika ia punya sesuatu yang enak untuk dilihat dalam kesehariannya entah itu cerdas, mudah senyum atau jago olahraga, penampilan fisik yang menarik hanya jadi bonus saja.

Aku merasakan Tidak pula ada kecocokan saat berinteraksi. Banyak orang jatuh hati karena menemukan chemistry atau kecocokan yang kuat dengan karakter orang yang disukainya tersebut. Hal ini membuat orang yang jatuh cinta mampu menjadi diri sendiri dan jujur.  Ketika seseorang bisa bersikap jujur apa adanya, di situlah ia merasa jadi orang paling bahagia.

Tak ada yang menarik. Entah itu tertarik mempelajari ajaran agama yang sama, menyukai musik yang sama, hobi yang sama dan lain sebagainya.

Ketika aku berkunjung kerumahnya, betapa baik orang tuanya menyambutku. Aku mampir sekedar memenuhi permintaanya. Saat itu dia bilang rumahnya kosong. Orang tuanya sedang menghadiri hajatan. Aku duduk diruang tamu sembari menyandarkan punggungku dengan nyaman. Dia berada dilantai beralas tikar sambil menonton TV. Satu jam kemudian ada orang membuka pintu bagian belakang. Seorang wanita dan laki- laki. Rupanya dia ayah dan ibunya. Ibunya menemuiku,kami bersalaman. Sekejab saja ibunya kembali kedapur dan membawa makanan dari dapur.  Nasi yang masih panas dengan lauk pauk lengkap.Sepertinya semua masakan baru saja matang.

            “Ibu, siapa yang masak ?” , tanyaku.

            “Ibu sendiri nak.”

Rupanya didapur tadi ada orang. Ibunya memasak tetapi tidak ada suara gemlonteng alat- alat dapur.  Saya diajak makan bersama sama. Sungguh saya heran, cara ibunya memperlakukan aku. Seperti tamu istimewa saja aku disini. Ayahnya juga begitu lembut dan ramah menyapaku. Menanyakan orang tuaku, pekerjaan dan makanan khas yang ada di daerahku.

Setelah makan siang dan duduk ngobrol sebentar dengan ayah ibunya, aku berpamitan untuk pergi kuliah. Mas Eko sudah menungguku di motor. Orang tuanya mengantarkan kami dengan pandangan mata sampai kami tidak kelihatan di belokan jalan.

***

Pulang kuliah, aku diantar mas Eko samapai rumah. Mata Mas Eko melihat sekeliling, sepertinya dia tau semalam ada yang terjadi di rumahku. Perayaan ulang tahunku bersama teman temanku. Dia seperti menyesali moment itu dan sedikit menyalahkanku. Tetapi tidak begitu ku pikirkan, aku terus saja ke dapur untuk membuatkan dia minum. Perjalanan dari kuliah sangat melelahkan, kebetulan matahari juga begitu terik. Aku yakin dia lelah dan haus. Setelah melepas jaket Almamater kampus itu, aku melihatnya duduk lalu meraih gitar yang tersandar dikursi ruang tamu.

Tangannya mulai membunyikan dawai gitar itu. Sudah kutangkap melodi dari senar senar itu mulai dimainkan. Kali ini aku mulai tertarik dan tak sabar untuk duduk disampaingnya.

            “ Kau bisa main ?”

Dia hanya diam , sambil terus bermusik. Aku mengikuti irama itu hingga aku menyahut dengan syairnya. Semakin aku ikuti musiknya semakin nyaman aku berlagu. Dia melirik kepadaku , seolah memberi isyarat agar aku melanjutkan lagu sampai selesai. Petikan gitarnya sangat bagus. Menenangkan dan syahdu. Hingga beberapa lagu sudah mengalun tanpa request. Air dalam gelas itu menjadi dingin. Aku memintanya berhenti, dan mempersilahkan untuk minum. Dia meminum air yang kusuguhkan, dan melihatku. Tangannya menghentak lantai berulang kali.

            “ Harusnya kita mainkan lagunya tadi malam “. Kalimatnya seperti menyesali waktu yang sudah lewat. Aku merasa tidak peduli, karna gitar itu sudah dimainkan dengan sama baiknya tadi malam. Akupun bisa bernyanyi dan tertawa lepas dengan teman temanku . Tak berkurang kebahagiaanku sedikitpun ada atau ketidak hadirannya serasa tidak berpengaruh.

Lama kami tak berucap. Dia mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Bungkusan kecil berwarna itu dia serahkan padaku. Aku menerimanya , dan mengucapkan terima kasih . Tak lama dia berpamitan, juga minta ijin untuk membawa motorku lagi.

Sampai malam , aku baru sempat membuka bungkusan itu. Sebatang coklat dan sepucuk surat. Benar, saat ini jelas isinya bahwa itu surat cinta.

Begitu yakinnya dikatakan dalam surat itu bahwa ada perasaan yang sama antara aku dan dia, padahal tidak.

Betapa tegas kemauan kalimat – kalimat itu, agar aku merahasiakan hubungan yang telah dijalin, sementara bagiku tak ada hubungan apa- apa.

Begitu konyol, dia berkata dalam suratnya bahwa aku tidak perlu membalas suratnya karna dia sudah tahu isi hatiku. Jika balasan surat saja tidak akan kubuat, apalagi balasan cinta. Aku geleng- geleng dan menghela nafas.

“Bagaimana ini?” aku berdialog dengan hati begitu jengkel. Ada orang seaneh itu.

***

Pada hari berikutnya aku sampaikan dengan jujur, apa jawabanku atas suratnya. Jika dia melarangku membalas suratnya , maka aku akan sampaikan dengan lisan bahwa aku tudak mencintainya. Aku tahu bahwa cinta bisa jadi kesedihan yang nyata bila cinta yang tumbuh trnyata hanya bertepuk sebelah tangan. Rasanya pasti menyakitkan, apalagi selama ini dia gede rasa gengsi.

Dia hanya terdiam. Sebentar dia menutup wajahnya dengan kedua tangan.

            “ Mencintai seseorang yang tidak mencintaimu sama seperti memeluk kaktus. Semakin erat kau memeluknya, semakin sakit yang kamu rasakan.”  Begitulah ku katakan kepadanya seperti yang pernah kubaca dalam sebuah anonim.

Aku berlalu meninggalkannya. Hari ini kami menjadi canggung. Selama bekerja , kami tak berbicara sepatah kata apapun. Dia sibuk mengamati layar laptonya sambil mengetik. Entah apa yang ia kerjakan hari ini.

Terdengar musik lirih mengalun di sela sela kesibukan dan perasaan kami masing masing. Lagunya Adaband, yang populer  di tahun 1996.

Bagaimana mestinya?

Membuatmu jatuh hati kepadaku

Tlah ku tuliskan sejut puisi                 

Meyakinkanmu membalas cintaku...

Haruskah ku mati karenamu

Terkubur dalam kesedihan sepanjang waktu..

Begitu saja terus syair lagu diputar sampai seharian hingga jam kerja selesai dan  aku mendahuluinya pulang.

***

Aku mendekatinya dan berdiri diam tepat di belakangnya. Jemarinya terus saja mengetik pada laptop , mungkin tugas kantor yang harus dia selesaikan. Disebelahnya ada teman laki- laki yang sedang menyeruput segelas kopi.

Setelah lama aku diam dibelakangnya, dia mulai mengajakku bicara dengan pelan.

            “ Apakah kau tidak bisa mencintaiku??”

            “ Tidak !” jawabku lebih pelan

            “ Jika aku paksa untuk mencintaiku, apa tetap tidak bisa?”

            “ Maafkan aku!” sambungku lagi.

            “ Aduuuh, sakitnya !” sahut teman di sebelahnya, sambil mengelus dadanya sendiri.

Hubungan kami tetap baik sebagai teman kuliah dan teman kerja. Hanya saja sejak itu, dia tak pernah datang ke rumahku lagi. Rasa bersalah muncul dalam hatiku ,sedikit demi sedikit. Tiap kali bertemu dengannya aku selalu lebih banyak memulai pembicaraan. Aku banyak menawarkan bantuan baik itu tugas kantor ataupun tugas kuliah. Hal itu aku lakukan untuk mengurangi rasa bersalahku terhadapnya.

***

Beberapa bulan kemudian hubungan pertemanan kami kembali normal. Kami sama- sama melupakan apa yang pernah terjadi. Sampailah pada cerita baru ketika dia mengenalkan kepadaku seorang gadis. Aku menyambut hal itu dengan lega. Jika dia tidak bertemu pujaan hati atau dia menemui kegagalan cinta lagi, maka aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri.

            “ Kamu pacarnya mas Eko?”

Kalimatku seolah membuatnya sangat bahagia. Sudah ketahuan bahwa mereka sudah membangun hubungan.

            Kami mengobrol dengan asyik. Mereka juga kelihatan dekat. Sesekali mas Eko menatapku dengan senyum, melihat si gadis cantik itu bercerita dan menggemaskan.Aku membuat kesimpulan , mereka pasangan yang serasi. Untung ada seorang gadis yang baik yang segera mengisi hati mas Eko . Aku begitu kejam, hingga berterus terang mengatakan bahwa aku tidak bisa mencintaianya.

Sejak dia punya kekasih, dia seperti menjauh. Tapi tidak menjadi masalah. Aku akan lebih bahagia jika dia bisa melupakanku.

***     

Berbulan- bulan tidak ada cerita antara aku dan Mas Eko, namun hari ini Andin datang kerumah. Tidak dengan Mas Eko, tapi dia sendirian. Wajahnya yang manis dan ceria begitu khas dia tampakkan saat bertemu denganku.

Segeralah kami masuk rumah , dan tak sabar untuk menanyakan kabarnya, keluarganya dan juga Mas Eko.

            “ Kok sendirian, mana mas Eko ? sapaku memulai obrolan.

            “ Aku sudah putus !”

Wajah ceria itu berubah menjadi muram. Matanya berkaca. Bibirnya gemetaran, seperti menahan marah.

            “ Apa masalahnya ?”

            “ Orang tuanya sangat membenciku !” jawab Andin

            “ Kenapa tidak bicara baik –baik, katakan kalian saling mencintai !” nadaku keras .

            “ Tidak!!, Mas Eko tidak mencintaiku.

Suara Andin parau, seiring isak tangisnya yang dalam . Aku duduk bergeser lebih dekat padanya. Aku menarik tangan yang dia pakai untuk menutup wajahnya.

            “ Jujurlah padaku! Apakah Mas Eko pernah berbuat padamu, seperti apa yang dia perbuat padaku? Pertanyaanya memelas.

            “ Maksudmu...?? mataku terbelalak dengan ketakutan akan satu hal yang mestinya dilarang dilakukan pasangan sebelum menikah.

Dia mengangguk, mengisyaratkan bahwa dugaanku benar. Tangisnya semakin keras dan memelukku dengan erat. Aku masih kebingungan dan tidak percaya. Kubiarkan Andin menagis dengan puas dipelukanku. Aku juga terbawa keadaan. Mataku basah dan badanku seperti tak bertulang. Kenapa Andin datang kepadaku dan menceritakan semuanya tentang Mas Eko dan keluarganya? Sebab dia pernah mendapat cerita  dari Mas Eko bahwa aku pernah jadi kekasihnya . Lagi – lagi dia menunjukan kelihaiannya berhalusinasi.

***

Malam ini aku tidak bisa lari dari perasaan memuji diri sendiri. Aku bangga sebagai seorang yang sulit mencintai, kejam, tak pernah mengerti bahasa perasaan. Aku benar- benar memaafkan diriku sendiri.

Astaghfirullah hal aziiim, nafasku seperti berhenti. Aku mengingat , berapa kali aku berada dirumahnya berdua, berada dikantor berdua, perjalanan berdua, mampir di kos laki- laki nya berdua, naik gunung berdua, kuliah berdua, dan banyak waktu aku hanya berdua saja dengan Mas Eko. Tak setitik curiga, khawatir ataupun takut aku disampingnya.

Aku tersipu saat mengingat dia pernah mengulurkan tangannya saat dijalan terjal naik gunug . Aku menolak dan tak mau meraih tangannya, andaikan iya pasti aku akan jadi kekasihnya.

Komentar